Bersyukur di Tengah Badai
Sudah naturnya manusia mengharapkan kebahagiaan. Dan, kalau bisa bahagia itu menjadi yang paling utama di deretan angka 1, 2, 3, dst..
Aku, kamu, dan kita semua pasti selalu memimpikan segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup akan happy ending, berakhir sesuai dengan skenario yang kita imajinasikan.
Namun, kenyataan bahwa kita adalah murid-Nya, membuat kita harus memangkas semuanya itu. Ibaratnya bunga, masih kuncup tapi harus sudah dipotong.
Bersyukur di tengah badai, itu salah satu tantangan yang harus kita lalui. Tentunya kita gak akan pernah sampai ke seberang kalau kita gak berani menyusuri aliran air, menghadapi badai, hingga akhirnya sampai. Semuanya itu sudah menjadi bagian dari perjalanan kita semua. Dan, memutuskan untuk menjalaninya memang harus kita lakukan.
Sakit?
Pastinya.... Dia sendiri bahkan tau betapa sakitnya itu. Namun, seringkali Ia mengizinkan rasa sakit itu kita alami supaya kita tahu bersyukur, dan selalu mempercayakan seluruhnya pada-Nya.
Sudahkah kita bersyukur di tengah badai hidup yang kita hadapi?
Ini saatnya kita harus merenungkan itu kembali.
Supaya kita tidak hanya mengharapkan rasa manis dari perjalanan hidup. Rasa pahit, asam, pedas, asin, asam, dll. semuanya itu harus kita kecap. Supaya aku, kamu, dan kita semua tidak menjadi murid gampangan.
Bersedia mengucapkan kata "syukur" di tengah badai?
Komentar
Posting Komentar